klik link di bawah ini..

Kamis, 12 Juni 2008

Genital Herpes

Apa itu?
Genital Herpes adalah infeksi pada area genital yang dapat juga berada di daerah sekitar mulut.

Berapa banyak kasusnya?
Sekitar 1 Juta kasus baru tiap tahunnya. Sekitar 45 juta kasus masih berlangsung.

Bagaimana penularannya?
Dengan menyentuh area yang terinfeksi. Atau melakukan kontak seksual dengan orang yang terinfeksi. Beberapa orang mungkin menjadi penular, sekalipun mereka tidak sakit. Namun virus herpes berdiam di tubuh mereka.

Bagaimana gejala awalnya?
Sebagian besar orang tidak mengalami gejala awal. Herpes dapat menyebabkan permukaan kulit mengering di area genital atau sekitar mulut. Berwarna coklat, lalu jika terkelupas kulit akan berwarna kemerahan, terasa gatal dan perih. Ketika pertama kali terserang, akan demam seperti kena flu.

Perawatannya gimana?
Tidak ada obat-obatan yang bisa menyembuhkan herpes. Ini tidak lain karena penyebab herpes adalah virus. Pengobatan hanya mampu mengurangi rasa sakit yang timbul. Selanjutnya diserahkan pada kekebalan tubuh masing-masing.

Kemungkinan terburuknya apa?
Meningkatkan kemungkinan terjangkiti PMS lainnya. Virus berdiam di dalam tubuh, sehingga sewaktu-waktu dapat kambuh kembali. Penularan herpes dari ibu ke bayi jarang sekali. Herpes ini sakit sekali, maka pencegahan lebih baik daripada mengobati.

Syphilis

Apa itu?
Syphilis adalah infeksi bakteri yang dapat menjalar ke seluruh tubuh.

Berapa banyak kasusnya?
Sekitar 700.000 kasus tiap tahunnya. (USA)

Bagaimana gejala awalnya?
Pada fase pertama, kulit retak dan kering terjadi pada area genital atau mulut setelah 10-90 hari setelah penularan dan mungkin berakhir setelah 3-6 minggu. Tapi kadang-kadang tidak ada gejala awal sama sekali. Pada fase kedua, lebih dari beberapa minggu setelah fase pertama usai, akan muncul kerusakan-kerusakan yang tampak pada kulit seperti di sela-sela jari tangan, jari kaki dan area genital. Kerusakan ini tampak seperti orang berpenyakit lepra. Walaupun gejala-gejala ini hilang, penyakit ini masih bersarang di tubuh.

Bagaimana penularannya?
Lewat kontak seksual langsung vaginal, oral maupun anal. Dan juga berciuman mulut ke mulut dengan penderita sebelumnya.

Perawatannya gimana?
Antibiotik dapat digunakan jika dapat terdeteksi dini. Namun pengobatan tidak dapat mengembalikan kerusakan yang terjadi aibat penyakit ini. Hindari hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan adalah hal terbaik untuk mencegah penyakit ini.

Kemungkinan terburuknya apa?
Meningkatkan kemungkinan terserang PMS lain. Jika tidak dirawat, walaupun secara fisik sudah sembuh, dapat kambuh lagi karena penyakit masih bersarang di tubuh. Jika ini terjadi, maka akan masuk ke fase ketiga yaitu kerusakan orak, hati, system syaraf dan dapat menyebabkan kematian. Syphilis dapat mempengaruhi pembentukan fetus pada wanita hamil, sehingga memperbesar resiko keguguran atau bayi mati dalam kandungan.

Virus Hepatitis B

Apa itu?
Virus Hepatitis B adalah inveksi virus yang menyerang organ hati.

Berapa banyak kasusnya?
Sekitar 73.000 kasus per tahun. (USA)

Bagaimana penularannya?
Melalui kontak seksual langsung, baik vaginal, oral maupun anal. Tapi juga dapat ditularkan melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian dengan orang yang terjangkiti virus ini.

Bagaimana gejala awalnya?
Banyak orang tidak mengalami gejala awal. Namun yang lain mungkin mengalami kelelahan, pening, kehilangan kesadaran, urin menjadi gelap dan kejang pada perut. Kulit berubah menguning dan mata memutih dapat terjadi nanti.

Perawatannya gimana?
Vaksin bisa mencegah virus ini. Namun tidak selalu efektif. Tidak diperkenankan minum alkohol atau minuman yang memperberat kerja organ hati. Biasanya dengan perawatan dokter akan sembuh dalam 2-3 minggu.

Bagaimana penularannya?
Penularannya melalui kontak seksual baik vaginal, oral maupun anal. Dapat juga menular melalui jarum suntik yang digunakan bergantian, donor darah, kehamilan dan menyusui.

Kemungkinan terburuknya apa?
Meningkatkan kemungkinan terserang PMS lain, juga hepatitis C. Dapat menyebabkan kanker pada hati. Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian.

HIV

Apa itu?
HIV adalah Human Immuno Virus. Menyebabkan AIDS.

Berapa banyak kasusnya?
Sekitar 40.000 orang tertular tiap tahunnya (USA). Mayoritas karena transmisi seksual. Lebih dari 50 juta penduduk dunia hidup dengan HIV di tubuhnya.
Bagaimana penularannya?

Gejala awalnya gimana?
Banyak orang yang mengidap HIV tidak mengerahui karena gejalanya tidak tampak dalam 10 tahun atau lebih. Yang lain mungkin mengalami gejala seperti flu, diare, kelelahan, demam terus menerus, berkeringat pada malam hari, sakit kepala atau infeksi di area genital.

Perawatannya gimana?
Tidak ada pengobatan untuk AIDS. Antiviral hanya dapat memperlambat gerak HIV dan menunda kerusakan. Mencegah penularan adalah cara paling efektif.

Kemungkinan terburuknya apa?
HIV adalah PMS paling mematikan. Melemahkan kemampuan tubuh manusia menahan penyakit. Dapat menyebabkan perkembangan penyakit lain seperti kanker dan infeksi. Lalu berujung pada kematian setelah mengalami penderitaan yang panjang.

Nah, masih mau bermain-main api?

Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

Semua perempuan berisiko kanker serviks
10/06/2008 - Endah Gusnita

Angka kematian karena kanker serviks (kanker leher rahim) masih tinggi. Di dunia, setiap dua menit seorang perempuan meninggal karena kanker serviks. Sementara di Indonesia, setiap jam seorang perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks menduduki urutan pertama kanker yang paling sering menyerang perempuan di Indonesia.

Masih tingginya kasus kanker serviks merupakan sebuah ironi. Hal ini dikarenakan kanker serviks merupakan penyakit yang telah diketahui penyebabnya dan telah diketahui perjalanan penyakitnya. Ditambah juga sudah ada metode deteksi dini kanker serviks, sehingga sesungguhnya kanker serviks dapat dihindari. “Banyaknya kasus kanker serviks di Indonesia disebabkan kesadaran masyarakat untuk deteksi dini masih rendah,” kata DR. dr. Andrijono, SpOG(K).

Infeksi HPV dan Kanker Serviks

Erat kaitan antara infeksi HPV (Human Papilloma Virus) dengan kanker serviks. Infeksi HPV terdeteksi pada 99,7% kasus kanker serviks. Infeksi HPV dapat dengan mudah ditularkan melalui kontak kulit kelamin. Jadi, semua perempuan berisiko terkena infeksi HPV sejak pertama kali berhubungan seksual.

Memang, sebagian besar infeksi HPV akan menghilang dengan sendirinya karena adanya sistem kekebalan alami tubuh, namun beberapa diantaranya akan menetap, tergantung dari tipe HPV yang menginfeksi. Kanker serviks terjadi melalui infeksi HPV yang menetap tersebut.

Klasifikasi tipe HPV berdasarkan epidemiologi:

Golongan
Tipe HPV
Risiko tinggi 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59
Kemungkinan risiko tinggi 26, 53, 66, 68, 73, 82
Risiko rendah 6, 11, 40, 42, 43, 44, 54, 61, 70, 72, 81

Setiap perempuan yang telah terinfeksi HPV bukan berarti akan langsung memiliki kekebalan terhadap HPV. Kemungkinan risiko infeksi berulang (reinfeksi) dari tipe HPV yang sama atau berbeda tetap ada, sehingga pada akhirnya semua perempuan tetaplah berisiko menderita kanker serviks.

Risiko menderita kanker serviks akan meningkat jika perempuan tersebut adalah perokok (risiko dua kali lebih besar), HIV positif, menderita infeksi klamidia, melahirkan banyak anak, dan terdapat riwayat kanker serviks dalam keluarga.

Deteksi Dini Kanker Serviks

Pada tahap prakanker yang seringkali tidak menimbulkan gejala, ditemukan sel-sel abnormal pada serviks yang dapat dideteksi melalui pap smear. Jika sel-sel abnormal ini berkembang lebih lanjut menjadi kanker serviks, timbul gejala seperti rasa sakit saat hubungan seksual, perdarahan setelah hubungan seksual, perdarahan di luar siklus menstruasi, dan keputihan yang keruh dan berbau. Perjalanan kanker serviks memakan waktu 10-20 tahun mulai dari tahap infeksi, prakanker hingga berkembang menjadi kanker serviks.

Saat ini, metode yang digunakan untuk mendeteksi dini kanker serviks telah berkembang. Diharapkan dengan adanya deteksi dini, dapat ditemukan sel-sel abnormal pada tahap prakanker, sehingga dapat segera dilakukan terapi dan mencegah terjadinya perkembangan lebih lanjut menjadi kanker serviks.

Berikut beberapa metode deteksi dini kanker serviks:

  • Pap smear
    Pap smear adalah cara skrining yang paling sering digunakan dan sudah dikenal luas. Dilakukan dengan cara mengambil lendir serviks, kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui adanya kelainan pada serviks. Anda yang sudah menikah atau telah melakukan hubungan seksual aktif, disarankan melakukan pap smear secara teratur.
    Pap smear dengan media cairan disebut thin-prep (Liquid Base Cytology/LBC) dengan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan pap smear konvensional. Sementara pemeriksaan sediaan pap smear dengan menggunakan sistem interaktif komputer disebut pap-net.

  • IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
    IVA merupakan metode skrining alternatif untuk kanker serviks. Pada pemeriksaan IVA, digunakan asam asetat dengan konsentrasi 3-5% yang dipulaskan pada serviks. Pada tahap prakanker akan timbul warna bercak putih.

DR. Andri menjelaskan bahwa pap smear hanyalah sebatas skrining, bukan diagnosis adanya kanker serviks. Jika ditemukan hasil pap smear yang abnormal, maka dilakukan pemeriksaan standar berupa kolposkopi. Kolposkopi merupakan pemeriksaan dengan pembesaran yang digunakan untuk mengamati secara langsung permukaan serviks dan bagian serviks yang abnormal.

Pada pasien yang dicurigai menderita kanker serviks, pemeriksaan dilanjutkan dengan melakukan biopsi, yakni dengan mengambil sedikit sampel jaringan. Hasil biopsi merupakan dasar diagnosis pasti apakah pasien tersebut menderita kanker serviks atau tidak. Dari sinilah baru ditentukan terapi yang tepat untuk pasien.

Kanker Serviks dapat Dicegah

Ada dua cara untuk mencegah kanker serviks. Cara pertama dengan mencegah tahap prakanker, yakni dengan menghindari faktor risiko kanker serviks. Cara kedua dengan melakukan deteksi dini untuk menemukan tahap prakanker sebelum berkembang menjadi kanker.

Tidak melakukan hubungan seksual pada usia dini, tidak bergonti-ganti pasangan seksual, dan tidak berpasangan dengan mereka yang sebelumnya memiliki banyak pasangan seksual merupakan upaya untuk menghindari infeksi HPV.

Saat ini, kanker serviks dapat dicegah dengan pemberian vaksin HPV. Vaksin HPV bertujuan untuk mencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang merupakan HPV risiko tinggi penyebab lebih dari 70% kasus kanker serviks. Pemberian vaksin sebaiknya dilakukan pada perempuan yang belum atau tidak terinfeksi HPV dan sebelum melakukan hubungan seksual (dapat diberikan pada usia 10-55 tahun).

Vaksin HPV merupakan vaksin profilaksis (pencegahan), bukan vaksin terapetik (pengobatan). Jadwal pemberian vaksin terbagi dalam 3 dosis yakni pada bulan ke-0, ke-1, dan ke-6. Pencegahan yang terbaik adalah dengan melakukan vaksinasi dan pap smear secara berkala.

Untuk melakukan pemeriksaan pap smear dan mendapatkan vaksin HPV, Anda dapat menghubungi dokter spesialis Obstetri-Ginekologi (kebidanan dan kandungan). Berikut beberapa tempat yang dapat menjadi referensi untuk melakukan pap smear:

  • Yayasan Kanker Indonesia
    Jl. DR. Sam Ratulangi No. 35 Jakarta 10350
    Telp. (021) 3152606, 3152603, 3920568

  • Unit Uji Kesehatan dan Deteksi Dini Kanker RS Kanker Dharmais
    Jl. Letjen S. Parman Kav. 84-86 Jakarta
    Telp. (021) 5681578
    Tersedia Paket Deteksi Dini Kanker Leher Rahim

Oleh karena mayoritas infeksi HPV ditularkan melalui hubungan seksual, maka menjaga perilaku seksual yang sehat dan melakukan skrining secara teratur merupakan langkah terbaik yang dapat dilakukan. Jaga kesehatan reproduksi Anda. Para perempuan, Anda terlalu berharga untuk keluarga dan orang di sekitar Anda. Jangan sampai kanker serviks merenggut kebahagiaan Anda. Cegah kanker serviks sebelum terlambat!


Artikel terkait: