| KANKER: KALAU TAK BISA DIOPERASI, BAGAIMANA |
| | | |
| | |
Cara mengobati kanker secara tuntas adalah dengan
operasi. Tapi dewasa ini kanker yang dapat dioperasi
secara tuntas tidak sampai 1/3, mengapa? Ada beberapa
penyebabnya: (1) kanker dini tidak ada gejala khusus,
ketika terdiagnosis sudah stadium lanjut, kankernya
sudah sangat besar, atau lokasinya menyulitkan,
misalnya di dekat pembuluh darah besar, atau sudah
menyebar (metastasis), tidak dapat dioperasi lagi. (2)
kondisi fisik pasien lemah, atau menderita penyakit
lain seperti hipertensi, jantung koroner, fungsi
ginjal terganggu, dll. hingga tidak dapat menahan
tindakan bedah. (3) pasien atau keluarganya menolak
dioperasi.
Bagaimana cara menangani pasien demikian? Pertama-tama
harus berpegang pada motto &sayangilah kehidupan,
jangan putus asa*, dengan kasih dan tulus mengobati
setiap pasien. Ke dua, memanfaatkan berbagai metode
yang ada secara optimal, terutama teknologi terbaru,
dalam terapi secara kombinasi.
Dengan kemajuan iptek, dewasa ini sudah banyak cara
terapi baru bermunculan, khususnya metode berteknologi
tinggi, sehingga sebagian kanker yang tak dapat
dioperasi dapat dimusnahkan, setidaknya dapat
mengurangi jumlah sel kanker, dengan berkurangnya
beban sel kanker maka radioterapi dan kemoterapi dapat
digunakan. Metode baru itu meliputi metode transarteri
(jieru), dengan memasukkan kateter lewat pembuluh
darah hingga ke dekat kanker, pembuluh darah yang
memasok kanker disumbat, atau disuntikkan obat
antikanker ke dalamnya; imunoterapi yaitu meningkatkan
kemampuan sel kekebalan tubuh dalam membasmi sel
kanker; metode ablasi, yaitu dengan pembekuan,
pemanasan atau zat kimia secara langsung &menembak
mati kanker di tempat*, yang menonjol di antaranya
adalah metode krioablasi; ada lagi metode terapi
fotodinamik, yang juga dijuluki &peluru kendali*
fotokimia, yaitu dengan sinar laser mengaktifkan zat
khusus tertentu agar timbul reaksi kimia yang
mematikan sel kanker.
Secara klinis, metode terapi konvensional (termasuk
operasi, radioterapi dan kemoterapi) harus dipadukan
dengan teknologi canggih mutakhir, satu teknologi
canggih mutakhir harus dipadukan dengan teknologi
canggih mutakhir lain, terapi tradisional China (TCM)
dan kedokteran Barat harus dipadukan. Praktek klinis
kami menunjukkan, dengan &tiga perpaduan menjadi
satu* itu, 70%pasien kanker yang tidak dapat
dioperasi lagi setelah menjalani perpaduan terapi
tersebut dapat mengalami perbaikan, bahkan kesembuhan.
Satu contohnya adalah seorang anak kecil. Pada tanggal
23 November 2001 koran &Yangcheng Wanbao* di
Guangzhou, China, memuat satu artikel berjudul:
&Siapa mau membantu bocah Ming mengoperasi tumor
raksasanya?*. Seorang bocah bernama Ming Zai yang
berasal dari daerah pegunungan di sebelah Barat
Guangdong telah kami jemput untuk diobati ke RS kami.
Kondisi penyakitnya jauh lebih parah dari yang kami
bayangkan. Bocah 6 tahun itu tampaknya seperti berusia
4 tahun, tampak murung, suaranya lemah, pucat pasi,
berdiri tidak mantap, duduk tidak tegap, matanya
cekung, bola matanya redup, pipinya kurus, mulutnya
tidak dapat dibuka, di dasar rongga mulutnya terdapat
suatu tonjolan, gigi geliginya jarang dan tidak
teratur letaknya. Di bagian depan lehernya terdapat
satu benjolan besar sekali, permukaannya tertutup
kulit yang tipis mengkilap, pembuluh darah di bawah
kulitnya tampak jelas. Benjolan itu tidak mudah
digerakkan, bagian atasnya mencapai rahang bawah,
bagian bawahnya menyatu dengan dada atas, napasnya
memburu, frekuensi nadinya 140 kali per menit.
Hasil ronsen dan CT-scan menunjukkan: tulang gusi dan
rahang bawahnya sudah destruksi; di dalam benjolan itu
terlihat jaringan kulit dan folikel rambut, di
dalamnya tersebar gigi geligi. Di bawah mikroskop
terlihat banyak sel ganas. Diagnosisnya adalah
teratoma maligna. Tumor itu bukan hanya tumbuh ke
luar, tapi juga mendestruksi ke atas, merusak tulang
gusi dan bagian bawah rongga mulutnya, ke dalam juga
mendesak batang tenggorok dan kerongkongan. Napasnya
memburu, tidak dapat menelan makanan kering, karena
tumor itu menekan batang tenggorok dan
kerongkongannya.
Suatu sore tanggal 24 November 2001, para pakar
terkait dari berbagai RS di kota Guangzhou datang
memeriksanya. Hasilnya adalah operasi merupakan
satu-satunya cara membuang tuntas tumor itu, tapi saat
ini Ming Zai tidak dapat menerima operasi. Sebab: (1)
waktu operasi, perdarahan minimal 5000 mL, sedangkan
darah di dalam badannya hanya sekitar 1000 mL; (2)
tumor di leher, tidak dapat dilakukan intubasi, juga
tidak dapat dilakukan torakotomi, maka tidak dapat
dilakukan pembiusan; (3) tumor itu ganas, status gizi
dan pertumbuhan sang bocah buruk sekali, diperkirakan
umurnya tidak lebih dari 3 bulan, maka mungkin sebelum
selesai terapinya ia sudah meninggal. Dari aspek
perbandingan biaya-hasil, nilai terapinya tidak besar.
Tapi, menghadapi akan hilangnya satu jiwa, kami
bertekad untuk melakukan terapi, tidak putus asa.
Operasi tidak mungkin, kami menggunakan metode
nonoperasi. Melalui infus transarteri, radiasi, terapi
panas dan krioablasi argon-helium dan perpaduan
teknologi canggih lainnya, tumor Ming Zai secara
bertahap menyusut hingga lenyap. Kini Ming Zai sudah
pulih total, sedang bersekolah lagi.
Kalau bukan karena motto &menyayangi jiwa, tidak
pernah putus asa* dan menggunakan perpaduan berbagai
metode teknologi canggih, jiwa yang nyaris hilang itu
tidak mungkin berhasil ditolong.